MA Ungkap Polisi Paksa Yulius untuk Mengaku Jadi Pengedar Ganja

Hukum Nasional
Typography

NEWS.DETIK.COM - Mahkamah Agung (MA) membebaskan Yulius dari tuntutan 7 tahun penjara. MA mengungkap bila polisi memaksa Yulius untuk mengakui sebagai pengedar ganja.

Kasus bermula saat aparat Polsek Cakung, Jakarta Timur, menangkap Yulius pada 7 Maret 2007. Yulius ditangkap saat sedang tiduran di rumah Edi dengan tuduhan menjual ganja seharga Rp 20 ribu. Atas tudingan itu, Yulius diproses secara hukum. Adapun Edi raib dan dinyatakan DPO.

Tidak tanggung-tanggung, jaksa menuntut Yulius dengan hukuman 7 tahun penjara. Namun benarkah tuduhan itu? PN Jaktim menampik dakwaan dan tuntutan tersebut. Pada 3 Oktober 2007, PN Jaktim membebaskan Yulius. Atas hal itu, jaksa mengajukan kasasi pada 22 Oktober 2007.

Sepuluh tahun berlalu, Mahkamah Agung (MA) menguatkan vonis bebas tersebut. MA meyakini bila polisi sebetulnya tidak cukup bukti, tetapi memaksa Yulius sebagai pengedar.

"Terdakwa saat ditangkap polisi dipaksa untuk mengakui kalau barang Narkotika tersebut milik terdakwa, selama ini terdakwa tidak pernah membeli, memiliki atau menguasai, menyimpan maupun menjual Narkotika," kata majelis sebagaimana dilansir website MA, Selasa (19/9/2017).

Selidik punya selidik, Yulius hanya sedang numpang tidur di kontrakan Edi. Saat sedang tidur, ia ditangkap dan dituduh memiliki segaris ganja di kontrakan tersebut. Anehnya, Edi --sebagai orang yang mengontrak-- tidak pernah dihadirkan sebagai terdakwa di kasus itu. Edi raib.

"Terdakwa sama sekali tidak mengetahui kalau ada ganja di rumah Edi. Yulius di rumah Edi hanya karena terdakwa menumpang tidur. Yulius tidak pernah terkait dan berhubungan dengan Edi dengan kegiatan penyalahgunaan maupun peredaran gelap narkotika," ujar majelis kasasi yang terdiri dari Artidjo Alkostar, Surya Jaya dan Sri Murwahyuni.

Majelis menolak kesaksian saksi di persidangan karena dua saksi tersebut adalah polisi.

"Keterangan saksi yang seluruhnya dari pihak Kepolisian saja, menerangkan tentang perbuatan dan kesalahan terdakwa, sudah dapat dipastikan memberatkan dan sangat subjektif karena pihak kepolisian mempunyai kepentingan terhadap perkara tersebut," cetus majelis dengan suara bulat.

Meski divonis bebas, Yulius telah menghuni penjara selama 6 bulan lamanya.

(asp/idh)