Ketua PA Muara Enim Ikuti Pembinaan Teknis dan Administrasi Yudisial Pimpinan MA

Berita Utama
Typography

PA-MUARAENIM.GO.ID - Ketua Pengadilan Agama Muara Enim, Drs. H. Habib Rasyidi Daulay, M.H., mengikuti Pembinaan Teknis dan Administrasi Yudisial oleh Pimpinan Mahkamah Agung RI, pada Kamis-Jum'at (12-13 September 2019), di hotel Premier BW Suite, Tanjung Pandan, Belitung.

Pembinaan Teknis dan Administrasi Yudisial itu diikuti oleh para Ketua Pengadilan Tingkat Banding seluruh Indonesia dan para Ketua, Panitera dan Sekretaris Pengadilan Tingkat Pertama se-wilayah Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, dan Bengkulu pada 4 (empat) Lingkungan Peradilan. Selain itu diikuti juga oleh Hakim Agung, Hakim Ad Hoc, Hakim Yustisial, Pejabat Eselon I dan II pada Lingkungan Mahkamah Agung.

Ketua PA Muara Enim berpendapat bahwasanya para pimpinan Mahkamah Agung melakukan pembinaan di Tanjung Padan pada hakikatnya ingin mengetahui apa saja permasalahan yang tengah dihadapi setiap satuan kerja yang ada dibawahnya, baik secara teknis maupun non teknis, mulai dari Hakim hingga Panitera maupun Sekretaris.

Baca Juga :
15 Orang Tenaga Teknis PA Muara Enim Akan Ikuti Diskusi Ilmiah Teknis Yustisial

Sebagaimana kegiatan pembinaan sebelumnya, pembinaan kali ini juga diisi dengan dua pembinaan, yakni pembinaan oleh Pimpinan Mahkamah Agung yang dipimpin langsung oleh Ketua Mahkamah Agung, Yang Mulia Prof. Dr. M. Hatta Ali, S.H., M.H., dengan didampingi oleh Wakil Ketua Bidang Yudisial dan Non-Yudisial, Ketua Kamar Tata Usaha Negara, Ketua Kamar Agama, Ketua Kamar Pidana dan Ketua Kamar Militer. Kemudian pembinaan lainnya oleh Pejabat Eselon I Mahkamah Agung yang disampaikan oleh Sekretaris Mahkamah Agung, Panitera Mahkamah Agung, Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum, Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama, Kepala Balitbanngdiklat Kumdil, dan Kepala Badan Pengawasan.

Meski menyerupai pola sebelumnya, pembinaan kali ini memberi warna yang sedikit berbeda. Setidaknya ada empat perberbedaan yang mencolok dalam pembinaan kali ini. Pertama, Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung memilih untuk tidak memberikan materi dalam pembinaannya, tetapi mencukupkan dengan pembinaan yang disampaikan oleh pimpinan lainnya. Ia beralasan agar momentum pertemuan pimpinan Mahkamah Agung dan pimpinan pengadilan tersebut lebih banyak mendengarkan permasalahan yang disampaikan oleh pimpinan pengadilan di daerah. “Dengan begitu, kita akan mendapatkan informasi yang lebih banyak mengenai keadaan di daerah,” sambung Hatta Ali.

Kedua, dengan kesempatan yang diberikan tersebut, jumlah pimpinan pengadilan yang menyampaikan permasalahan jauh lebih banyak dibandingkan dengan pembinaan-pembinaan sebelumnya. Jika dalam pembinaan sebelumnya jumlah penanya tidak sampai sepuluh orang, namun kali ini mencapai dua puluh orang. Bahkan Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial yang didaulat menjadi moderator pembinaan, memberikan kesempatan kepada pimpinan pengadilan untuk memberikan tanggapan atas jawaban yang disampaikan oleh pimpinan.

Ketiga, permasalahan-permasalahan yang disampaikan oleh pimpinan pengadilan, tidak hanya berkisar pada masalah-masalah teknis yustisial, tetapi juga menyangkut permasalahan non-yustisial. Dan terkait dengan yang terakhir, Wakil Ketua Mahkamah Agung meminta agar Pejabat Eselon I menyampaikan penjelasan dalam kegiatan pembinaannya, seperti masalah pembangunan gedung pengadilan, kenaikan kelas pengadilan, biaya mutasi, pengangkatan hakim tinggi, dan lain sebagainya.

Keempat, dengan luasnya cakupan permasalahan yang dikemukakan oleh pimpinan pengadilan, benang merah kedua kegiatan pembinaan tersebut semakin kuat. Perpaduan antara aspek teknis dan non teknis menjadi semakin erat dalam tata kelola pengadilan.

| Humas Pengadilan Agama Muara Enim